Rubrik Teknologi : Rekayasa Teknologi Untuk Mendukung Kemandirian dan Daya Saing Industri Obat dan Alat Kesehatan

Proyeksi kebutuhan teknologi produksi obat dan kesehatan Indonesia sampai tahun 2035 terangkum dalam Outlook Teknologi Kesehatan yang diluncurkan oleh BPPT dalam acara Lab Indonesia 2016 pekan lalu. Outlook tersebut nantinya akan digunakan sebagai salah satu penuntun pengembangan teknologi kesehatan dalam rangka mewujudkan kemandirian dan meningkatkan daya saing industri farmasi dan alat kesehatan nasional. Di dalam outlook teknologi kesehatan tersebut, disajikan data, analisis, dan proyeksi kebutuhan produk dan teknologi untuk industri farmasi dan alat kesehatan, yang mengacu pada proyeksi kondisi kependudukan atau demografis dan pola penyakit di Indonesia. Proyeksi tersebut juga mempertimbangkan kecenderungan pasar, kemampuan industri, dan kebijakan pemerintah. Melalui proyeksi tersebut, BPPT dapat menentukan action plan dalam upaya mengembangkan inovasi dan teknologi kesehatan, yaitu ketersediaan farmasi, bahan baku obat, alat kesehatan, dan in vitro diagnostic yang digunakan untuk pelayanan kesehatan. Proyeksi tersebut nantinya akan dijadikan sebagai acuan dalam melakukan analisis untuk menghasilkan peta kebutuhan dan prioritas jenis teknologi yang diperlukan hingga tahun 2035 mendatang.

Dalam pengembangan industri obat dan alat kesehatan, Pusat Teknologi Farmasi dan Medika (PTFM) BPPT telah melakukan pengkajian kebutuhan teknologi proyeksi hingga tahun 2035. Menteri Ristek dan Dikti, Mohamad Nasir, memberikan dukungan penuh terhadap road map yang dirilis oleh BPPT tersebut. Dalam acara Indonesian 4th Laboratory Scientific Analytic Equipment and Services Exhibition and Conference yang diselenggarakan di Jakarta Convention Center pada 13 April yang lalu, Mohamad Nasir menyatakan bahwa pihaknya telah memangkas berbagai aturan yang menyulitkan tumbuhkembangnya industri farmasi di Indonesia. Beliau menegaskan bahwa Indonesia perlu mencapai kemandirian dalam penyediaan bahan baku obat. Hal tersebut dapat tercapai dengan memperkuat komitmen bersama antara akademisi, regulator, dan industri, agar perkembangan riset tumbuh secara optimal dan menjadi penggerak ekonomi Indonesia. Dalam acara tersebut, Menteri Ristek dan Dikti menjelaskan bahwa fokus utama yang perlu diperhatikan adalah peningkatan supply bahan baku obat dan inovasi apa yang diperlukan untuk meningkatkan produksi farmasi yang mudah diakses oleh masyarakat.

Narasumber : Imam Paryanto, M.Eng (Direktur Pusat Teknologi Farmasi dan Medika BPPT)

Host : Rifatul Istianah

Related post

1 Comment

  • I am in fact thankful to the owner of this web site who has shared this impressive piece
    of writing at at this time.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.